Selasa, 15 April 2008

Touch Screen (Layar Sentuh)


Touchscreen atau touch panels, atau touch monitor merupakan sebuah perangkat komputer yang biasanya digunakan untuk menampilkan informasi grafikal dan visual yang merupakan output dari sebuah perangkat komputer. Namun, yang membedakannya dengan monitor atau layar televisi biasa adalah apa yang ditampilkan di dalamnya dapat secara langsung berinteraksi fisik dengan penggunanya. Maksudnya, Anda dapat langsung menyentuh layar penampil tersebut dengan tangan atau alat bantu untuk mengakses apa yang ditampilkan di dalamnya.


Cara Kerja Touchscreen
Sebuah layar touchscreen yang paling sederhana terdiri dari tiga buah komponen utama dalam bekerja. Komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1. Touch Sensor
2. Controller
3. Software driver

Touch Sensor
Touch sensor merupakan sebuah lapisan penerima input dari luar monitor.
Input dari touchscreen adalah sebuah sentuhan, maka dari itu sensornya juga merupakan sensor sentuh.






Controller
Controller merupakan sebuah perangkat yang digunakan untuk menghubungkan antara sensor dengan perangkat komputer yang akan memproses sentuhan tersebut.





Software driver

Software driver merupakan sebuah software pengatur yang diinstal pada perangkat komputer atau PC Anda yang tugasnya adalah untuk mengatur agar perangkat touchscreen dan komputer dapat bekerja sama untuk digunakan dalam berbagai macam keperluan.

Keterangan:
1. Touch sensor
2. Controller
3. Software driver

Teknologi Touchscreen
Berikut ini adalah beberapa teknologi touchscreen yang masing-masing memiliki fungsi dan kegunaannya tersendiri dalam aplikasinya:

>> Capasitive Touchscreen
>> Surface Wave Touchscreen
>> Resistive Touchscreen

Capasitive Touchscreen
Touchscreen jenis ini memiliki cara kerja yang cukup rumit, namun sangat andal dalam ketahanan dan kejernihannya.



Surface Wave Touchscreen
Teknologi touchscreen yang satu ini memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk mendeteksi kejadian di permukaan layarnya. Di dalam monitor touchscreen ini terdapat dua tranduser, pengirim dan penerima sinyal ultrasonik.




Produk Microsoft terbaru:
Microsoft Surface: a touch screen table


Resistive Touchscreen
Touchscreen yang termasuk dalam jenis ini adalah touchscreen yang layarnya dilapisi oleh sebuah lapisan tipis berwarna metalik yang bersifat konduktif dan resistif terhadap sinyal-sinyal listrik.





Kekurangan layar sentuh
Namun touchscreen ini juga bukannya tanpa kelemahan. Meskipun secara fisik kebal terhadap gangguan elemen-elemen luar, kinerja dari layar sentuh ini dapat diganggu oleh elemen-elemen seperti debu, air, dan benda-benda padat lainnya.


Touchscreen di Mana-mana
Layar touchscreen saat ini sudah dapat di lihat pada PDA, TabletPC, komputer PC baik di pakai sendiri atau banyak kita jumpai di mall-mall dan mesin ATM, banyak perangkat elektronik lainnya.









http://Subari.blogspot.com
*------------------------------------
Akbar
Andreas
Dodik


...

Selengkapnya >>

Senin, 14 April 2008

Individual Biometric - Retinal Scan


Biometric berasal dari kata Bio dan Metric. Kata bio diambil dari bahasa yunani kuno yang berarti Hidup sedangkan Metric juga berasal dari bahasa yunani kuno yang berarti ukuran, jadi jika disimpulkan biometric berarti pengukuran hidup. Tapi secara garis besar biometric merupakan pengukuran dari statistic analisa data biologi yang mengacu pada teknologi untuk menganalisa karakteristik suatu tubuh ( individu ). Nah dari penjelasan tersebut sudah jelas bahwa Biometric menggambarkan pendeteksian dan pengklasifikasian dari atribut fisik. Terdapat banyak teknik biometric yang berbeda, diantaranya:


• Pembacaan sidik jari / telapak tangan
• Geometri tangan
• Pembacaan retina / iris
• Pengenalan suara
• Dinamika tanda tangan.


Karena kerumitannya, Biometric adalah tipe otentikasi yang paling mahal untuk diimplementasikan. Tipe ini juga sangat sulit dipelihara karena sifat ketidaksempurnaan dari analisis biometric. Sangat dianjurkan untuk berhati–hati karena beberapa masalah utama dari eror–eror biometric diantaranya, sistem mungkin bisa menolak subjek yang memiliki otoritas.

Kesalahan seperti ini biasa disebut False Rejection Rate ( FRR ). Dan disisi lain biometric juga bisa menerima subjek yang salah dan seperti ini biasa diistilahkan False Acception Rate ( FAR ). Tapi teknologi ini juga mempunyai sisi positif, salah satunya mungkin bisa diambi contoh dari Retinal Scan yang sangat impossible untuk diduplikasikan.

Pengertian
Retinal Scan merupakan salah satu biometri tertua dari beberapa teknologi biometri yang ada. Pada tahun 1930 riset mengusulkan teknologi yang dapat mengditeksi pembuluh darah pada selaput mata. Tetapi teknologi tersebut membutuhkan waktu yang sangat lama untuk digunakan dan tepatnya pada tahun 1984 alat ini mulai dikembangkan dan digunakan oleh perusahaan - perusahaan tertentu.

Pengertian dari retinal scan itu sendiri adalah salah satu teknologi biometri yang memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi yang mampu meneliti lapisan pembuluh darah dibelakang selaput mata.
Tapi tingkat akurasi dari retinal scan sendiri bisa menurun apabila terjadi gangguan pada selaput mata. Contohnya, bila mata sudah mulai rabun atau parahnya lagi ( katarak ) maka alat yang digunakan untuk mengditeksi taidak dapat mengenali identitas si pengguna.


Retinal Scan
Retinal Scan merupakan salah satu teknologi biometric yang bekerja pada belakang selaput mata ( selaput jala ). Retinal Scan sampai sekarang penggunaannya masih sangat jarang, mungkin dikarenakan biaya yang sangat tinggi dan kebanyakan orang berpendapat, dengan menggunakannyan teknologi ini bisa menimbulkan gangguan pada mata.
Memang diakui semua teknologi tidak ada yang sempurna tidak melainkan teknologi Retinal Scan, akan tetapi dengan menggunakan teknologi ini identitas pemakai akan sangat sulit untuk diduplikatkan. Bukan hanya itu saja teknologi tersebut bisa sangat akurat dalam mengverifikasikan bahwa si pengguna telah menunjukkan identitasnya. Selain itu alat ini tidak seperti kartu identitas yang bisa dicuri bahkan dihilangkan.

Retinal scan ini dioperasikan melalui alat digital yang mampu mengditeksi dengan cepat dan melalui inframerah atau cahaya ( sinar ) maka alat tersebut dengan otomatis akan memunculkan identitas ataupu biodata si pengguna.
Beda dengan teknologi biometri lainnya. Teknologi ini bekerja dengan selaput mata belakang dan lewat sel saraf mata alat pengditeksi akan mengetahui si pengguna retinal scan tapi biasanya membutuhkan waktu sekitar 10 – 15 detik untuk mrngecek saraf saraf yang sudah dipasangkan retinal scan.
Teknologi ini sudah digunakan di USA di bagian militer mulai tahun 1984. Mereka menggunakan alat ini untuk menjaga akses keamanan mereka dari teroris dan pengganggu lainnya. Seperti di bagian militer mereka juga menerapkan teknologi ini dibagian CIA, FBI, NASA, bahkan juru masak dipenjara federal yang berada dipinggiran kota Texas. Mereka memanfaatkan alat ini guna untuk mejaga keamanan mereka.

State Machine model adalah kumpulan dari Retinal Scan, yang disebut state, dan sebuah transisi yang spesifik yang diijinkan untuk melakukan modifikasi terhadap object dari satu state ke state berikutnya. State machine sering dipakai untuk real-life entities ketika state yang spesifik dan transisinya ada dan dimengerti. Ketika sebuah subject meminta untuk membaca sebuah object, harus ada sebuah transisi yang mengijinkanuntuk merubah sebuah object yang closed menjadi open object. menunjukan diagram dari state machine yang sederhana. State direpresentasikan oleh lingkaran, dan transisinya direpresentasikan oleh anak panah.

Retinal scan belum dimanfaatkan secara efektif dan efisien di pemerintahan maupun pelayanan publik. Padahal tata kelola pemerintahan Indonesia saat ini membutuhkan suatu sistem yang baik atau sering disebut sebagai Good Corporate Governance atau Good Goverrment. Retinal scan dapat diperankan sebagai enabler dalam konteks pembangunan pemerintahan yang bersih, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Proses pemerintahan yang rumit (complex) dapat dimodelkan dengan teknologi dan system informasi yang sistematis. Selain untuk pemerintahan, reibal scan juga bisa digunakan diperusahaan – perusahaan yang memiliki nilai bisnis yang lumayan besar.
Tapi jangan salah retinal scan tidak bekerja semaksimal mungkin. Retinal scan sendiri mempunyai kelemahan ( error ). Retina bisa saja dibaca error apabila pembacaannya tidak sesuai dengan alat pengukur sensornya memerlukan sebuah pusat keamanan yang bisa menentukan apakah sebuah permintaan akan disetujui atau ditolak. Pendekatan ini sangat mudah karena retinal scan hanya di pelihara pada lokasi yang tunggal. Salah satu kelemahannya adalah central access control bisa menjadi single point of failure. Jika central access control rusak, maka semua object tidak akan bisa diakses. Dampak negative yang lainnya adalah dalam masalah perfomance, jika sistem tidak bisa memmenuhi semua permintaan dari si pengguna ( user ). Maka dapat memilih beberapa paket yang biasa dipakai dalam mengimplementasikan administrasi terhadap kontrl akses. Contoh errornya


Cara Kerja Retinal Scan
Cara kerja dari retinal sendiri cukup sederhana yaitu ketika si pengguna menggunakan alatnya maka sinar inframerah yang berada pada digital pengditeksi langsung secara otomatis mengditeksi sel saraf yang berada pada selaput mata belakang dan biasanya berlangsung 10 – 15 detik.

Dari gambar di atas kita bisa melihat cara kerja dari retinal scan dengan sensor dari inframerah yang melewati atau memaparkan cahayanya ke saraf retina dan secara otomatis alatnya akan mengantarkan ke digital sensor tersebut bahwa si pengguna telah menunjukkan identitasnya.
Seperti yang sudah dijelaskan diatas kalau setiap teknologi tidak ada yang sempurna. Sama halnya dengan alat sensor untuk retinal scan, alat ini tidak bisa mengenal atau mengdeteksi 100% pemakainya mungkin disebabkan adanya gangguan pada saraf selaput mata. Dan di sisi lain alat ini bisa mengenalinya namun dengan pemakai yang salah.
Semakin banyak informasi, atau faktor, yang diminta dari subjek, semakin menjamin bahwa subjek adalah benar-benar entitas yang diklaimnya. Oleh karenanya, otetikasi dua faktor lebih aman dari otentikasi faktor tunggal. Masalah yang timbul adalah bila subjek ingin mengakses beberapa sumber daya pada sistem yang berbeda, subjek tersebut mungkin diminta untuk memberikan informasi identifikasi dan otentikasi pada masing masing sistem yang berbeda. Hal semacam ini dengan cepat menjadi sesuatu yang membosankan. Sistem Single Sign-On (SSO) menghindari login ganda dengan cara mengidentifikasi subjek secara ketat dan memperkenankan informasi otentikasi untuk digunakan dalam sistem atau kelompok sistem yang terpercaya. User lebih menyukai SSO, namun administrator memiliki banyak tugas tambahan yang harus dilakukan. Perlu perhatian ekstra untuk menjamin bukti-bukti otentikasi tidak tidak tersebar dan tidakdisadap ketika melintasi jaringan. Beberapa sistem SSO yang baik kini telah digunakan. Tidak penting untuk memahami setiap sistem SSO secara detail. Konsep-konsep penting dan kesulitan-kesulitannya cukup umum bagi semua produk SSO.

Cara Penggunaan Retinal Scan

Si pengguna memusatkan mata pada satu titik sampai ada cahaya inframerah yang memaparkan cahayanya ke mata si pengguna dan secara otomatis akan mengverifikasikan identitas si pengguna.
Adapun langkah–langkah spesifiknya:
1. Subjek akan melakukan permintaan akses ke suatu objek kemudian objek akan mengirimkan ID kepada subjek sesuai permintaan si subjek
2. Memanggil AS ( Authentication Service ) untuk melakukan otentikasi terhadap subjek
3. Kemudian subjek mengirim permintaan akses bersama ID lengkapnya ke objek
4. Dan jika ke dua sisi sudah bersesuaian maka akses dikabulkan
Biasanya ini dilakukan 2 – 3 dalam satu minggu karena selain dari tuntutan juga untuk menjaga kestabilan mata. Pemilik retina scan ditugaskan untuk memelihara mata mereka demi melaksanakan kebijakan keamanan sesuai dengan procedure yang telah disepakati oleh pemilik retina scan. Pemilik rerina scan sering kali melupakan bahwa dia harus manjaga selaput matanya jika tidak bisa menimbulkan problem yang fatal.

Pemilik data memikul tanggung jawab terbesar terhadap proteksi retinal scan. Pemilik data umumnya adalah anggota manajemen dan berperan sebagai wakil dari organisasi dalam tugas ini. Ia adalah pemilik yang menentukan tingkat klasifikasi retina scan dan mendelegasikan tanggung jawab pemeliharaan sehari-hari kepada pemelihara data.
Jika terdapat pelanggaran keamanan, maka pemilik data-lah yang memikul beban berat dari setiap masalah kelalaian.
Berikut gambar dibawah merupakan salah contoh ini cara penggunaan dari retinal scan.


Perkembangan Biometri
Perkembangan beometri pada tahun ke tahun mulai tahun 1984 sangat mengalami peningkatan dikarenakannya minat dari perusahaan dan pemerintahan yang ingin memakai jasa teknologi ini. Contoh statistik:

Dari contoh statistik di atas sudah jelas kalau Retina Scan megalami statistik yang naik turun. Beda dengan teknologi biometri lainnya retina scan masih sangat sulit untuk bersaing itu disebabkan peminat untuk menggunakannya masih takut karena pikirnya retina scan dapat merusak selaput mata dan menggangu terutama kepenglihatan.
Organisasi-organisasi menggunakan beberapa kebijakan dalam menerapkan peraturan retina scan . Filosofi yang paling tidak aman (paling berbahaya) adalah memberikan hak akses kepada setiap orang secara default. Memang kelihatannya mudah akan tetapi hal ini mudah juga untuk di bobol. Jadi pada metode ini, kita harus memastikan bahhwa semua akses harus dibatasi, administrasi yang buruk bisa menyebabkan lubang kemanan. Filosofi dari retina scan adalah sebuah subject hanya diberikan hak sesuai dengan keperluannya tidak lebih. Retina Scan membantu menghindari authorization creep, yaitu sebuah kondisi dimana sebuah pemakai memiliki hak akses lebih dari apa sebenarnya dibutuhkan.
Biometric lainnya yang menggambarkan pendeteksian dan pengklasifikasian dari atribut fisik. Terdapat banyak teknik biometric yang berbeda, diantaranya Retina Scan sendiri. Karena kerumitannya, Retina Scan adalah tipe otentikasi yang paling mahal untuk diimplementasikan. Tipe ini juga lebih sulit untuk dipelihara karena sifat ketidaksempurnaan dari analisis biometric. Dianjurkan untuk berhati-hati beberapa masalahmasalah utama dari eror-eror Retina Scan. Pertama, sistem mungkin menolak subjek yang memiliki otoritas. Ukuran kesalahan semacam ini disebut dengan false rejection rate (FRR). Di sisi lain, sistem Retina Scan mungkin menerima subjek yang salah. Ukuran kesalahan semacam ini disebut dengan false acception rate (FAR). Yang menjadi masalah adalah ketika sensitifitas sistem biometric diatur untuk menurunkan FRR, maka FAR meningkat. Begitu juga berlaku sebaliknya. Posisi pengaturan yang terbaik adalah bila nilai FRR dan FAR seimbang, ini terjadi pada crossover error rate (CER). menunjukkan hubungan CER terhadap FRR dan FAR dari perangkat biometric umum.


Aplikasi

Ketika dibahas di media umum Retina Scan diperkenalkan sebagai salah satu teknologi dari Biometri. Teknologi biometri kepemerintah atau keperusahaan sangat terkait untuk kemajuan dan literatur mereka tidak terkecuali dengan Retinal Scan. Dokumentasi dari retina scan sering dihubungkan dalam konteks logis keamanan seperti akses jaringan PC login.

Tetapi bertentangan dengan paham mereka. Retinal scan digunakan hampir dalam aplikasi keamanan, pengendalian untuk mengakses kearea sensitif atau didalam instalasi militer, pembangkit tenaga listrik dan sebagainya. Contohnya diIntelegen agen (CIA), kantor penyelidikan pusat (FBI) dan NASA. Menurut NASA retina scan mempunyai kemampuan dalam menjaga keamanan mereka, dibandingkan dengan finger scan, retinal scan lebih maksimal karena menurutnya sel saraf mata seseorang tidak akan berubah kecuali katarak dan lebih penting dengan menggunakan retinal scan mereka bias menjaga akses mereka dari orang luar yang tak bertanggung jawab.
Oleh karena itu retinal scan Kontrol akses adalah semua yang mengatur tentang proses pengontrolan akses. Pertama-tama kita akan mendifinisikan beberapa pengertian. Sebuah entitas yng memminta akses ke sebuah sumberdaya disebut sebagai akses dari sipengguna. Sebuah subjek merupakan entitas yang aktif karena dia menginisiasi sebuah permintaan akses. Sebuah seumber daya yang akan diakses oleh subjeks disebut sebagai objek dari akses. Objek dari akses merupakan bagian yang pasif dari akses karena subjek melakukan aksei terhadap objeks tersebut. Jadi tujuan dari kebijakan kontrol akses adalah mengijinkan hanya subjek yang mempunyai otorisasi yang bisa mengakses objeks yang sudah diijinkan untuk diakses. Hal ini mungkin juga ada subjeks yang sudah mempunyai otorisasi tapi tidak melalukan akses terhadap spesifik objeks tertentu.

Jika pun melakukan akses yang salah tapi Retinal Scan mampu mengatasinya dengan mengandalkan AS ( Authentic Security ). Tetapi dengan syarat kesalahan yang dilakukan tidak terlalu berat.
Tapi walaupun demikian semua teknologi tidak ada yang sempurna tidak melainkan retina scan sendiri. Informasi yang diberikan retinal scan berdasarkan statistic yang didasarkan pada 5% - 10% tidak mampu untuk memuaskan si pengguna.


Kelebihan dan Kekurangan
Retinal Scan pun mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan diantaranya sebagai berikut:
1. Kelebihan
- Tingkat kekeliruan dalam mengditeksi tau mengverifikasikan identitas sangat kecil.
- Tingkat kestabilan mata tidak akan berubah sampai seumur hidu melainkan kena penyakit ( katarak )
- Dalam mengditeksi suatu identitas sangat cepat
- Tidak ada satupun teknologi yang mampu mengduplikatkan sel saraf (retina) seseorang.
- Dengan kemaksimalannya dapat menjaga dan megamankan akses dari serangan atau gangguan dari teroris atau apapun.
- Beda dengan kartu dan kunci retinal scan tidak dapat dicuri atau dihilangkan.

2. Kekurangan
- Biaya yang sangat sulit dijangkau sekitar $2000 - $2500.
- Mata akan mengalami gangguan dan kerusakan apabila terlalu sering digunakan.
- Bila mata mengalami gangguan alat pengdeteksi bias saja tidak bisa membaca akses si pengguna. Mungkin bias dibaca tapi pembacaannya salah.
- Persepsi si pengguna dalam meggunakannya masih kurang karena disebabkan takut merusak mata dan penglihatan.
- Alat pengditeksi yang digunakan relative sulit ditemukan yang disebabkan alat untuk mendesainnya lumayan mahal.

Spesifikasi Hardware
Spesifikasi hardware yang digunakan masih sangat dirahasiakan karena teknologi ini masih jarang dimanfaatkan.



http://Subari.blogspot.com
*------------------------------------
Agus Sardi Ashari
Elka Alva Chandra


...

Selengkapnya >>

Minggu, 06 April 2008

Virus Digital Sebagai Senjata Perang Antar Negara


Ngeri dan Menyeramkan jika akibat penyerangan itu via digital....
Suatu saat nanti akan kita rasakan, diimana tiba – tiba dalam hitungan detik aliran listrik padam, sambungan telepon terputus, tidak ada lampu, tidak ada alat komunikasi dan akhirnya kita berada sekali lagi dalam kehidupan masa lampau yang primitif. Kehidupan sehari-hari otomatis terganggu bahkan lumpuh total. Kemudian tanpa disadari dalam kegelapan malam yang pekat, satu batalyon tentara berpakaian hitam-hitam mengepung dan memusnahkan semua kehidupan dalam hanya satu malam. Tanpa ada pertolongan dari pusat karena semua alat komunikasi telah terputus.

Sedangkan para petinggi militer di pemerintahan disibukkan dengan mengolah informasi-informasi intelejen yang antara satu dan lainnya tidak akurat, kurang lengkap, hingga salah total. Komputer yang digunakan untuk menyimpan data-data rahasia Negara crash dan adanya laporan bahwa sebagian data penting telah dicuri, dimanipulasi dan bahkan dihapus. Praktis Negara akan sangat sulit untuk mengambil keputusan yang tepat karena data-data yang ada tidak akurat. Akhirnya hanya dalam hitungan hari Negara yang dulunya makmur sejahtera kini harus dijajah kembali dan hidup dalam penindasan.
Ya, diatas adalah sedikit dari gambaran perang masa depan dimana semuanya serba digital, serangan-serangan virus baik yang dapat melumpuhkan perangkat lunak dan bahkan hardware-nya sekarang sudah sangat banyak bermunculan. Suatu kondisi yang lebih mengerikan disbanding perang fisik, karena dampaknya akan langsung terasa bukan hanya oleh militer sebagai pihak yang berperang, melainkan juga dirasakan oleh masyarakat sipil yang kehidupannya sehari-hari lumpuh total.


Sekilas Tentang Virus dan Malcode
Kebanyakan dari kita telah salah dalam mengartikan definisi sebenarnya dari virus komputer, apa yang selama ini kita kenal sebagai virus computer, tidak lain adalah serangkaian kode program yang dapat be-reproduksi dan lazimnya disebut Mal-Code. Untuk bisa menggandakan diri, virus haruslah dieksekusi terlebih dahulu, maka dari itu virus sering menyembunyikan dirinya di dalam program lain.

Klasifikasi Virus Komputer

Beberapa type virus yang beredar saat ini dapat kita klasifikasikan menjadi beberapa bagian penting, diantaranya :
A. Virus Boot Sector
Virus ini berada dan bersembunyi dalam boot sector, biasanya di dalam sector pertama dari suatu disk bootable atau hardisk.

B. Virus MS-Dos
Sama dengan namanya, virus ini bekerja di lingkungan MS-DOS yang biasanya beroperasi di Windows 95 atau Windows NT dengan DOS-Emulator. Virus ini sangat jarang terdapat dalam OS. Windows XP yang sudah tidak lagi menggunakan MS-DOS dengan Command Prompt sebagai feature utamanya.
Virus ini sering disebut juga dengan Companion Virus, memanfaatkan kelemahan MS-DOS yang jika kita menjalankan suatu aplikasinya hanya cukup menyebutkan nama filenya (tanpa ekstension), virus ini akan langsung aktif jika kita mengetikkan filename tanpa ekstensi (format MS-DOS yang selalu akan menjalankan file berkestensi .COM jika tidak dituliskan secara spesifik ekstensinya). Kebanyakan dari virus ini berekstensi .COM, .EXD.

C. Virus E-Mail
Disebut demikian karena media penyebarannya menggunakan E-Mail, virus ini akan mengcopy dan mengirimkan cloningannya melalui alamat-alamat E-Mail yang terdapat di Address Book.

D. Bom Logika (Logic-Bomb)
Virus ini akan ‘sementara’ menghilangkan keberadaannya sebagai virus hingga beberapa kali ia dijalankan. Setelah frekwensi aktifnya mencapai batas tertentu, ia akan mengeksekusi apa yang telah diprogramkan kepadanya (menghapus/memanipulasi file), jadi ia tidak seperti kebanyakan virus lainnya yang lebih kepada menggandakan diri. Virus ini seperti bomb-waktu yang siap meledak, maka dari itulah ia disebut dengan Bomb Logika.

E. Virus Makro
Virus yang dibuat dengan aplikasi Makro (VBA-Visual Basic for Application), yang biasannya merupakan bawaan dari program office (Excel, Word, Access dsb). Dan juga menyebar lewat aplikasi-aplikasi tersebut (office).

F. Virus Cross –Site
Virus ini menciptakan semacam symbiosis virtual antara web application (multimedia, graphic dll) dengan web browser.

G. Sentinels
Merupakan virus tingkat tinggi semacam Trojan yang dapat me-remote computer korban yang telah terinfeksi dengannya. Komputer yang telah terinfeksi akan berubah menjadi semacam zombie yang langsung bias menginfeksi computer lain yang berkomunikasi dengannya.

H. Trojan
Trojan beraksi selayaknya undangan untuk menghadiri suatu pesta. Dalam prakteknya user yang tertarik untuk misalnya : Download screen saver atau show picture akan secara tidak sengaja mengeksekusi listing program yang ada didalamnya. Listing program ini sangat berbahaya karena ia juga dapat membuka backdoor untuk digunakan Pembuat Virusnya melakukan hal-hal terlarang.
Sebenarnya Trojan bukanlah golongan dari virus karena ia tidak dapat menggandakan dirinya.

I. Worm
Worm bekerja dan menyebar dengan memanfaatkan jaringan sebagai medianya, worm langsung akan aktif dan menyebar dengan sendirinya sehingga meningkatkan traffic dalam suatu jaringan. Worm tidak seperti virus yang membutuhkan file induk/host file untuk sarana cloningnya. Dan worm biasanya tidak melakukan hal-hal yang ekstrem seperti halnya virus. (Hapus File, Manipulasi, dsb)

Virus Sebagai Senjata Perang Antar Negara

Mengapa ?

Virus merupakan alat propaganda yang paling aman dan mungkin juga paling ampuh dibandingkan propaganda secara nyata seperti halnya terror bom dan lain sebagainya, kita ambil contoh peristiwa bom bali yang memanaskan hubungan Indonesisa-Australia, banyak orang sipil yang tidak berdosa menjadi korban dari bom tersebut. Dan bandingkan dengan kasus Malaysia-Indonesia dalam perebutan blok ambalat, terbukti bahwasannya propaganda digital menjadi cara ampuh untuk membuat lawan kelabakan. Banyak pelajar-pelajar dan praktisi Teknologi di Malaysia yang bekerja keras setelah situs pemerintahannya di deface oleh para hacker dan cyber punk dari Indonesia. Beberapa thesis dan kajian ilmiah diadakan untuk meng-counter dan mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi, termasuk juga kemungkinan perang digital. Underground War.


Contoh Kasus
Mari kita simak bersama pernyataan berikut ini :
IW can be used to disrupt the use of precision bombs. Their increased use will undoubtedly be accompanied by a correlative growth in the development of IW for defence purposes. These types of bombs -- popularly called “smart bombs” -- premiered in the 1991 Gulf War between the Coalition countries and Iraq almost ten years ago. Since then, the use of such weapons has increased from eight per cent in that war to over 35 per cent in the Kosovo conflict. Precision bombing is meant to allow for the targeting of military facilities that are surrounded by civilian buildings, as was repeatedly the case in both the Gulf and Kosovo campaigns, and that is also the heart of the problem. The bombs are directed either by transponders surreptitiously placed on the target or by coordination of GPS (Global Positioning Satellite) signals which can identify exact locations on the earth and guide a bomb to that location. IW may be used to jam or corrupt the signals that direct the bombs
Tidak dapat disangkal lagi bahwasannya perang modern saat ini tidak lepas dari perang dunia digital dan teknologi informasi. Bom berpresisi atau yang sering kita sebut dengan smart bomb, menggunakan GPS dalam menentukan targetnya(Baca juga: Rudal dengan kendali GPS). Dan berdasarkan kenyataan tersebut, bukan suatu hal yang mustahil jika informasi yang diberikan oleh GPS tidak akurat alias sudah di jammed. Dan sekali lagi virus dapat berperan sebagai sarana yang tepat untuk tujuan tersebut.

Selain itu, seiring dengan semakin banyaknya transaksi jual beli yang menggunakan system online maupun real time, peluang virus computer untuk ambil bagian didalamnya semakin terbuka. Contoh kasus adalah pishing atau penipuan di dunia digital yang baru-baru ini seakan menjadi tren, walaupun tidak dapat dikategorikan sebagai virus, pishing mengadopsi system key logger, yang termasuk bagian dari Trojan. Pelaku penipuan akan merekam semua aktivitas korban di sistemnya, termasuk juga merekam si korban ketika menekan tombol keyboard. Dengan cara ini, akan sangat mudah bagi pelaku untuk mendapatkan e-mail, password, PIN, Nomor Rekening dan data-data rahasia lainnya yang diinputkan korban. Ambil satu kemungkinan seperti ini :
Dalam perang yang melibatkan negara A dan negara B dimana negara A mempunyai kualitas dan kuantitas diatas negara B dalam segi kemiliteran, entah itu jumlah personil, alat perang, maupun strategi. Dilain pihak, negara B yang notabene adalah negara pengetahuan, tidak begitu mementingkan militer sebagai alat pertahanan utama. Dalam prakteknya, mungkin di awal-awal hingga pertengahan perang, negara A diatas angina karena unggul segala-galanya. Tapi negara B masih punya senjata andalan yang beroperasi di balik layer, yaitu para ahli-ahli teknologi. Para ahli-ahli tersebut diperintahkan untuk memutus jalur dana negara A yang proses pengirimannya dilakukan melalui jalur digital atau transfer. Data-data keuangan negara A di manipulasi atau bahkan dihilangkan dengan menyusupkan beberapa virus computer ke dalam system mereka, praktis para tentara yang berperang digaris depan tidak dapat berbuat banyak karena bagaimanapun, suatu perang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Baik itu untuk logistic personel maupun pembiayaan maintenanance alat perang. Belum lagi mental pasukan negara A yang drop setelah mengetahui keadaan tersebut. Dengan kondisi seperti ini, sudah dapat ditebak bagaimana hasil akhirnya nanti.
Untuk para agen-agen intelejen negara, kemampuan menguasai dan mengoperasikan mutlak diperlukan, terutama untuk bagian cyber-nya, haruslah expert dalam bidang ini. Banyak para hacker dan cracker dari suatu negara yang berusaha keras ingin mendapatkan data-data rahasia dari negara rivalnya, nah disini kemampuan untuk mengcounter bahkan menyerang balik si penyerang haruslah dikuasai oleh yang berwenang.
Contoh-contoh diatas hanyalah sedikit dari segala kemungkinan yang ada, yang pastinya akan semakin berkembang seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi.

Tindak Lanjut & Antisipasi
Serangan-serangan dan ancaman dari dunia digital pastinya haruslah di atasi dan di counter dengan jalur digital pula. Penerapan security yang ketat pada system menjadi sebuah kebutuhan yang mutlak. Hal ini yang paling sering dilupakan oleh pihak-pihak yang terkait, yang tidak mau dipusingkan dengan ketatnya langkah untuk bisa mengakses suatu system, padahal tanpa security dan keamanan data yang memadai, ibarat orang yang terkena virus HIV AIDS, tanpa pertahanan dan tinggal menunggu sistem tersebut akan berakhir, crash, bahkan rusak total.

Komputer bagi kehidupan ibarat sebuah pisau bermata dua, jika kita menggunakannya secara tepat dan menuruti kaidah-kaidah yang berlaku, maka hasil-hasil yang positif dan juga bermanfaat akan kita dapatkan, tapi sebaliknya para pelaku-pelaku kriminal di bidang ini juga mendapatkan keuntungan mereka sendiri, banyak dari mereka menafsirkan perbuatan yang mereka lakukan sebagai ekspresi dari kreatifitas diri mereka. Namun apalah artinya sebuah kreatifitas jika merugikan diri sendiri dan orang lain.

Melihat perkembangan-perkembangan tersebut diatas, maka bersiaplah untuk tidak hanya menjadi konsumen di dunia digital. Dunia digital yang tidak kelihatan fisik menjadi alat yang berbahaya untuk ajang sabotase, balas dendam dan aksi tidak bertanggungjawab lainnya, jadi Waspadalah….! Jika anda pikir Hidup di dunia nyata ini KEJAM, hidup dalam dunia digital akan lebih KEJAM lagi. Waspada, jadikan security sebagai pandangan utama anda dalam mengambil keputusan, sebab suatu saat, anda bisa jadi kambing hitam karena aksi di dunia maya yang tidak anda lakukan..!!





http://Subari.blogspot.com
*------------------------------------
refferensi:
www.en.wikipedia.com
www.mediaindonesia.com
www.jasakom.com
www.suaramerdeka.com
Wardana, Jasakom Blackbook (Computer Virus), 2006, Jasakom, Jakarta

Guhya Eka Wijaya
Geger Tunggal Agwidya
...

Selengkapnya >>